Jual Kubah Masjid Tangerang

By | August 14, 2017

 Jual Kubah Masjid Tangerang – Mengetahui Masjid Masjid Tua Jakarta, di masa penjajahan Belanda muslim Thionghoa di Batavia juga dimasukkan kedalam kelompuk pribumi karna agama Islam yang di anutnya, hingga disamakan dengan orang Jawa, Sunda, Banten, Sumbawa dsb. Tambora yang saat ini jadi nama kelurahan sekalian kecamatan di Jakarta Barat, memanglah mengabadikan nama Gunung Tambora di pulau Sumbawa. Masjid Jami Tambora yang masih tetap kekar berdiri sampai saat ini dibuat oleh seseorang ulama yang datang dari sekitaran Gunung Tambora. Tersebut sepintas mengenai lima masjid tertua di Jakarta itu, Kubah Masjid.

Masjid An-Nawier Pekojan (1760) Jakarta Barat

Masjid An Nawier dididirkan th. 1180H/1760M, dua belas th. sesudah berdirinya Masjid Kampung Baru Pekojan oleh komune India. Masjid An Nawier lebih di kenal dengan sebutan Masjid Pekojan, di dirikan oleh di atas tempat wakaf dari Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus, seseorang muslimah dari jazirah Arabia yang tinggal di Pekojan, makam beliau saat ini ada dibagian belakang masjid ini. Konon Masjid An Nawier ini dahulunya jadi induk dari masjid-masjid sekitaran Batavia.

Pada awalnya masjid ini berbentuk surai kecil yang pembangunannya di ketuai oleh Daeng Usman Bin Rohaeli hingga th. 1825M. Lalu diteruskan oleh Komandan Dahlan th. 1825-1860M. Makam Komandan Dahlan saat ini ada di samping utara masjid yang dikelilingi batu pahatan besar. Pada th. 1926 masjid ini diperluas serta diperindah oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, beliau adalah seseorang muslim kaya raya yang semasa hidupnya turut menyelundupkan senjata untuk beberapa pejuang Aceh melawan Belanda.

Di masjid berikut tempat Habibb Usman Bin Yahya, mufti Islam di Batavia mengajar. Habib kelahiran Pekojan 1238H di kenal produktif menulis buku buku agama. Di antara 50 buku karangannya masih tetap dipakai di pengajian pengajian. Satu diantara muridnya yang populer yaitu Habib Ali Alhabsyi atau lebih di kenal dengan nama Habib Ali Kwitang, yang lebih kurang seabad lantas membangun majelis taklim Kwitang,  Jual Kubah Masjid Tangerang.

Masjid Jami’ Tambora (1761)

Terdapat di Jl. Tambora Masjid (dulu Jl. Blandongan) Nomor 11, Kelurahan Tambora, Kec. Tambora, Kotamadya Jakarta Barat, Propinsi Daerah Spesial Ibukota Jakarta. Masjid Jami’ Tambora dibuat pada th. 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, serta kawan-kawan. Mereka datang dari Ujung Pandang, serta lama tinggal di Sumbawa persisnya di kaki Gunung Tambora. Lalu dibuang ke Batavia oleh Kompeni Belanda serta dijatuhi hukuman kerja paksa. Sesudah lima th. ia dibebaskan lantas membuat masjid jadi tanda sukur.

Mulai sejak masjid usai dibuat, peribadatan di pimpin oleh K. H. Moestoyib hingga meninggal dunia. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini. Masjid ini diperluas serta dipugar menyeluruh pada th. 1980. Lalu kepemimpinan diarahkan pada Imam Saiddin hingga meninggal dunia, kemudian sekian kali alami perubahan pimpinan, serta paling akhir th. 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi serta kawan-kawannya dari Gang Tambora. Pada th. 1945 masjid jadikan markas perjuangan melawan NICA, bulan Oktober 1945 terserang tentara NICA serta pada akhirnya Mad Supi serta kawan-kawan ditawan Belanda,  Jual Kubah Masjid Tangerang.

Masjid Jami Tambora terdaftar jadi benda cagar budaya pada th. 1994, serta sudah mengalarni pemugaran, yakni th. 1979 oleh Project Sasana Budaya serta th. 1980 Dinas Museum serta Histori Daerah Spesial Ibukota Jakarta melakukan renovasi serta menaikkan ruang aula serta tempat sholat untuk kaum hawa (bagian selatan) dan pergantian warna cat dinding, serta th. 1988/1989 oleh Pemerintah Daerah Spesial Ibukota Jakarta.

Masjid (Jami’ Al-Mubarak) Krukut (1785)

Masjid Krukut yaitu satu diantara masjid tua di Jakarta, dibuat setelah th. 1785 diatas sebidang tanah luasnya 1. 000 m2 yang dimaksud Cobong Baru. Dibuat oleh golongan peranakan Tionghoa di Batavia, sesudah peroleh izin dari Gubemur Jenderal Alting. Izin itu diberi pada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Pada era ke-19 serta era ke20 masjid ini alami perubahan besar. Satu mimbar kayu layak dipandang karya besar seni ukir Tionghoa. Sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tidak tajam sekali lagi karena dilapis cat perak tidak tipis pada th. 1975 serta saat ini mimbar itu raib tidak terang keberada’annya.

Perombakan serta pembangunan keseluruhan masjid ini dikerjakan th. 1994 14 Januari 1994, diperluas oleh tanah wakaf yang didapatkan Syech Abdul Khaliq A Bakhsh serta dikerjakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun jadi wakaf untuk umat Islam. Di lokasi Krukut saat ini telah nyaris tidak ada sekali lagi muslim Tionghoa yang menetap di sana serta malah semakin banyak di dominasi muslim keturunan arab.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk (1786) Jakarta Barat

Menurut data dari Dinas Museum serta Pemugaran Propinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk dibangun oleh seseorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di th. 1786 (25 Th. sesudah Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke) . Beliau yaitu salah seseorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karna ditindas oleh pemerintah setempat. Sesampai di Batavia, ia temukan satu surau yang tiangnya sudah rusak dan tidak terpelihara sekali lagi. Lalu ditempat itu, ia serta beberapa rekannya, sesama pendatang dari Tiongkok membangun mesjid serta dinamakan Masjid Kebon Jeruk,  Jual Kubah Masjid Tangerang.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk jadi masjid pertama yang murni dibuat oleh muslim Thionghoa di Batavia serta jadi masjid pertama di lokasi pusat usaha Glodok. Di halaman samping timur masjid ada makam Fatimah Hwu yang disebut istri Chau Tsien Hwu. Nisan dari makam yang bertarikh 1792M ini cukup unik dengan bentuk naga bertulisan huruf cina berbunyi “Hsienpi Men Tsu Mow” yang berarti “inilah makam China dari keluarga Chai”, serta memakai pertanggalan Arab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *