Dasar Hukum Qurban Idul Adha Bahwa Hukumnya Sunnah

By | September 3, 2017

Idul Adha merupakan salah satu hari raya Islam yang dirayakan dengan menyembelih hewan kurban. Hukum berkurban adalah sunnah muakkadah dan bukanlah wajib. Terdapat beberapa dasar hukum qurban Idul Adha yang menunjukkan jika ibadah ini adalah sunnah. Pertama adalah surat Al-Kautsar:2. Dalam surat ini Allah berfirman untuk mendirikan shalat dan berkurban. Perintah shalat di dalam ayat tersebut bersifat umum yaitu shalat wajib dan shalat sunnah termasuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Perintah untuk berkurban juga sifatnya umum baik jenis kurban wajib misalnya AL-Hadyu karena haji tamattu’ atau kurban Sunnah misalnya udhiyah yang dilakukan muslimin di luar Mekah.

 

Kedua adalah perbuatan dari Rasulullah SAW dimana beliau melakukan dan melaksanakan amal berkurban. Ada 3 hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang intinya:

 

  • Pertama: Rasulullah SAW berkurban dengan 2 ekor kambing dengan warna putih lebih dominan dibandingkan dengan warna yang hitam. Kambing yang dipilih bertanduk dan saat menyembelih domba dengan tangan beliau sendiri, beliau menyebutkan nama Allah, bertakbir serta meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba.
  • Kedua: Uqbah bin ‘Amir Al Juhani pernah berkata jika Rasulullah membagikan binatang qurban ke sahabatnya dan ‘Uqbah hanya memperoleh Jadz’ah (kambing berusia 6 bulan atau berusia 4 tahun ke atas atau sapi berusia 3 tahun ke atas), kemudian bertanya ke Rasulullah dan Rasullullah bersabda agar berkurban dengan Jadza’ah tersebut.
  • Ketiga: dari Al Bara’, Rasulullah bersabda bahwa jika yang menyelembelih hewan kurban setelah shalat ied maka ibadah kurban yang dilakukan telah sempurna dan ia telah melaksanakan sunnah dengan tepat.

 

Ketiga adalah Rasulullah mengaitkan aktivitas berkurban dengan irodah atau keinginan Mukallaf. Diriwayatkan oleh Muslim dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah SAW bersabda yang intinya apabila telah tiba 10 dzul hijjah dan diantara kaum muslimin hendak berkurban maka jangan mencukur rambut ataupun memotong kukunya sedikitpun. Hadist tersebut menunjukkan jika melaksanakan kurban, hukumnya sunnah karena mengaitkan dengan kehendak atau irodah.

 

Keempat adalah Rasullullah SAW mendiamkan umatnya yang tidak melakukan kurban tanpa mencela atau mengkritiknya. Diriwatkan oleh Abu Dawud dari Jabir bin Abdullah yang dari hadits diatas disimpulkan ketika Rasul berkurban setelah selesai berkutbah kemudian menyembelih 1 ekor kambing kemudian mengucapkan jika, Beliau tidak hanya berkurban untuk dirinya melainkan juga untuk umatnya yang belum berkurban.

 

Kelima adalah sejumlah sahabat yang sengaja tidak melakukan kurban untuk mengajari kaum muslimin serta generasi sesudahnya jika hukum kurban tidaklah wajib. Hal tersebut diantaranya diriwayatkan Baihaqi bahwa Abu Bakar serta Umar sengaja untuk tidak berkurban agar tidak diduga jika melaksanakan kurban hukumnya adalah wajib. Lebih tegasnya, dari Bukhari meriwayatkan jika Ibnu ‘Umar berfatwa bahwa berkurban itu adalah Sunnah dan Makruf. Sehingga jelas hukumnya jika kurban tersebut adalah ibadah sunnah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *